Tangani Stunting, Dikes Luncurkan Inovasi KAKI INTENS

Kota Bima, Kahaba.- Stunting merupakan kondisi anak yang mengalami gangguan pertumbuhan, sehingga menyebabkan tubuhnya lebih pendek dari pada teman-teman seusianya dan memiliki penyebab utama kekurangan nutrisi.

Penggagas inovasi kaki intens hidayaturrahman dan nurramdani. Foto: eric

 

Untuk menangani itu, Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Bima kini menciptakan karya yang dihasilkan oleh pegawai setempat. Inovasi tersebut bernama Kasama Weki Dalam Integrasi Penanganan Stunting (KAKI INTENS).

Pegawai Dikes Kota Bima Nurramdani yang juga mantan Kepala Seksi Gizi menjelaskan, Balita stunting termasuk masalah gizi kronik yang disebabkan oleh banyak faktor, seperti kondisi sosial ekonomi, gizi calon ibu atau remaja, gizi ibu saat hamil, kesakitan pada bayi, dan kurangnya asupan gizi pada bayi. Kondisi tersebut berakibat pada perkembangan fisik dan kognitif yang tidak optimal.

“Berdasarkan data WHO tahun 2017, sebanyak 22,2 persen atau 151 juta Balita di dunia mengalami stunting. Indonesia termasuk dalam negara ketiga prevalensi tertinggi di Asia Tenggara yaitu berkisar 36,4 persen,” ungkap perempuan yang juga penggagas inovasi tersebut, Kamis (17/4).

Ia mengungkapkan, angka stunting di Kota Bima pada tahun 2017 sebesar 36,5 persen, kemudian turun menjadi 34,14 persen di tahun 2018. Lalu angka stunting pada tahun 2019 sebanyak 33,42 persen dan kemudian turun lagi pada tahun berikutnya yaitu
2020 menjadi 17,60 persen. Lalu pada tahun 2021, angka stunting mencapai 17,56 persen.

“Berdasarkan data tersebut, stunting menunjukkan permasalahan gizi buruk yang kronis dan terjadi di usia Balita. Maka penanganan stunting selain menjadi ranah tugas dan tanggungjawab Dikes, juga memerlukan keterlibatan berbagai pihak,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Hidayaturrahman menjelaskan, inovasi KAKI INTENS merupakan upaya yang dilakukan Dikes dalam melibatkan multi pihak untuk berkolaborasi, bersinergi guna penanganan stunting.

Ada sejumlah tahapan yang akan dilakukan, di antaranya “Kasabua ade” yang memiliki makna adanya kesamaan ide, komitmen dan
memahami tujuan dan arah kegiatan penanganan penurunan stunting. Sehingga tumbuhnya kesadaran kolektif pemangku kepentingan untuk secara bersama, dalam upaya penurunan prevalensi stunting.

“Kesadaran bersama ini direalisasikan dalam bentuk gerakan bersama secara terpadu. Yaitu penggalangan komitmen berupa disepakatinya Memorandum of Understanding (MOU) atau kesepakatan bersama, serta adanya pakta integritas dari berbagai pihak yang terlibat,” urainya.

Kemudian menyusun pedoman penanganan stunting untuk keselarasan pelaksanaan kolaborasi masing-masing pihak, hingga
dibentuknya tim terpadu mulai inner cycle pada Dinas Kesehatan serta Tim Kelurahan, Tim Kecamatan dan Perangkat Daerah

Hidayataturrahman menambahkan, untuk tahapan lainnya yaitu “Kasama Karawi” (Integrasi Pelaksanaan) yang bermakna adanya integrasi pelaksanaan penanganan stunting di kota Bima. Yaitu penurunan prevalensi stunting memerlukan keikursertaan banyak pihak, lintas sektor yang saling terkait dan lintas program sehingga mampu mewujudkan sinergisitas semua stakeholder, dalam percepatan penanggulangan stunting di kota Bima sehingga hasilnya lebih optimal.

“Tahapan terakhir yaitu kataho sama ra karawi atau integrasi perbaikan dan pemantapan, sebagai tahapan maturity bahwa integrasi dalam memperbaiki pelaksanaan secara terus menerus. Kemudian upaya evaluasi, perbaikan dan pemantapan pelaksanaan penanganan stunting berdasarkan pada data capaian, serta review kinerja pencapaian yang termaktub dalam inovasi KAKI INTENS,” terangnya.

Pria yang juga penggagas inovasi tersebut menambahkan, di samping itu, inovasi ini sebagai upaya Dikes Kota Bima untuk tetap berkontribusi pada event lomba inovasi tingkat nasional tahun 2022, guna mengangkat nama Kota Bima sebagai Kota
Terinovatif.

SUMBER : https://kahaba.net/berita-kota-bima/93938/tangani-stunting-dikes-luncurkan-inovasi-kaki-intens.html