Kasus Gangguan Jiwa Remaja Melonjak, Dinas Kesehatan Hadirkan SIJIWA REMAJA sebagai Solusi Berbasis Sekolah

Kota Bima — Masa remaja sejatinya adalah masa penuh harapan, ketika seorang anak perlahan menemukan jati dirinya menuju kedewasaan. Namun di balik proses tumbuh kembang yang berlangsung pada rentang usia 12–22 tahun itu, tersimpan pula kerentanan yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang datang begitu cepat menuntut remaja untuk mampu mengelola emosi, menyesuaikan diri, sekaligus membangun kematangan diri di tengah tekanan yang kian kompleks. Ketika dukungan, informasi, dan pendampingan yang memadai tidak hadir tepat waktu, fase transisi ini justru dapat berubah menjadi titik awal munculnya berbagai masalah kesehatan jiwa.

Data global menegaskan kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 15% remaja usia 10–19 tahun di dunia mengalami gangguan kesehatan mental, yang menyumbang 13% dari total beban penyakit global pada kelompok usia tersebut. Yang lebih mengejutkan, hampir separuh dari seluruh gangguan mental yang dialami manusia ternyata sudah mulai muncul sejak masa remaja. Artinya, apa yang tidak tertangani hari ini berpotensi menjadi beban seumur hidup di kemudian hari.

Kondisi di Indonesia pun menunjukkan pola yang serupa. Survei I-NAMHS tahun 2022 mengungkap bahwa 34,9% remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, dan 5,5% di antaranya bahkan mengalami gangguan mental dalam 12 bulan terakhir, dengan kecemasan dan depresi sebagai keluhan yang paling banyak ditemukan. Persoalan ini bukan sekadar angka statistik semata, sebab dampaknya nyata dirasakan: prestasi akademik menurun, produktivitas terganggu, hingga meningkatnya risiko perilaku menyimpang dan keinginan menyakiti diri sendiri.

Gambaran itu semakin terasa dekat ketika melihat data di lapangan. Sepanjang tahun 2024 hingga 2025, kunjungan rawat jalan akibat gangguan jiwa tercatat melonjak tajam, dari 25.732 kasus hingga Juni 2024 menjadi 60.793 kasus pada Desember 2025. Di Kota Bima, lonjakan itu terlihat jelas pada kelompok remaja usia 15–18 tahun, di mana jumlah kasus meningkat dari 401 pada tahun 2024 menjadi 751 kasus pada tahun 2025. Remaja kini tercatat sebagai kelompok usia yang paling terdampak, sebuah kenyataan yang semestinya menjadi alarm bagi semua pihak, bukan hanya tenaga kesehatan.

Sayangnya, di lingkungan sekolah, tempat remaja menghabiskan sebagian besar waktunya, upaya deteksi dini dan penanganan masalah kesehatan jiwa masih menghadapi jalan terjal. Wadah konseling yang ramah dan tepercaya bagi siswa masih minim, sementara pengetahuan guru BK maupun petugas UKS dalam melakukan skrining awal gangguan jiwa pun masih terbatas. Ditambah lagi, stigma negatif terhadap isu kesehatan mental di kalangan siswa masih kuat mengakar, membuat banyak remaja memilih diam dan memendam masalahnya sendiri. Di sisi lain, jalur rujukan antara sekolah dengan fasilitas layanan kesehatan seperti Puskesmas pun belum berjalan secara optimal dan terstruktur, sehingga banyak kasus baru terungkap setelah kondisinya semakin berat.

Berangkat dari keprihatinan itulah, Dinas Kesehatan melalui inovatornya Ns. Suci Kurniaty, S.Kep.,M.Kep menghadirkan sebuah terobosan bernama SIJIWA REMAJA, atau Sistem Integrasi Kesehatan Jiwa Remaja Berbasis Sekolah. Inovasi ini lahir dari kesadaran bahwa persoalan kesehatan jiwa remaja tidak bisa diselesaikan sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan sinergi. Melalui SIJIWA REMAJA, peran guru BK, kader remaja atau konselor sebaya, dan petugas kesehatan disatukan dalam satu sistem deteksi dini dan pendampingan yang terpadu. Guru BK dibekali kemampuan melakukan skrining awal secara lebih peka dan tepat, kader remaja diberdayakan sebagai jembatan yang lebih dekat dan minim stigma bagi teman sebayanya, sementara petugas kesehatan hadir untuk memastikan penanganan lanjutan berjalan sesuai kebutuhan setiap remaja.

Dengan pendekatan yang menyatukan promosi, pencegahan, deteksi dini, hingga sistem rujukan yang jelas ini, harapannya persoalan seperti kecemasan, depresi, stres akibat tekanan akademik, dampak perundungan, hingga pengaruh negatif media sosial dapat dikenali sejak awal, jauh sebelum berdampak pada prestasi belajar, hubungan sosial, bahkan masa depan remaja itu sendiri.

Dinas Kesehatan menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang untuk membangun generasi remaja yang tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga kuat secara mental dan berkarakter. Sebab, menjaga kesehatan jiwa remaja hari ini berarti menyiapkan fondasi bagi keluarga, sekolah, dan masyarakat yang lebih tangguh di masa depan — sebuah upaya yang tidak bisa berjalan sendiri, melainkan membutuhkan kepedulian dan keterlibatan semua pihak.[IMH]