Menjemput Sehat di Gerbang Sekolah: Kolaborasi Dinas Kesehatan Kota Bima Perkuat Deteksi Dini Penyakit Tidak Menular dan Kusta pada Anak Sekolah
Rabu, 22 Juli 2026 menjadi hari yang bermakna bagi ratusan siswa SD Negeri 62 Kelurahan Rontu, Kota Bima. Di ruang-ruang kelas, suasana belajar berubah menjadi pusat pelayanan kesehatan. Tim dari Dinas Kesehatan Kota Bima bersama Puskesmas Penanae melakukan pemantauan dan skrining kesehatan sebagai bagian dari upaya membangun generasi yang sehat sejak usia sekolah.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi lintas program yang melibatkan Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit serta Penyehatan Lingkungan (P3PL) melalui Program Penyakit Tidak Menular (PTM) dan Program Kusta, bersinergi dengan Bidang Bina Kesehatan Masyarakat (Binkesmas) serta tenaga kesehatan dari Puskesmas Penanae. Pendekatan kolaboratif tersebut mencerminkan implementasi transformasi pelayanan kesehatan primer yang menempatkan upaya promotif dan preventif sebagai prioritas utama.
Kegiatan skrining meliputi pemeriksaan faktor risiko Penyakit Tidak Menular (PTM), edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pengamatan dini tanda dan gejala kusta pada anak, serta penyuluhan kepada guru dan siswa mengenai pentingnya menjaga kesehatan sejak usia sekolah. Seluruh proses dilaksanakan dengan pendekatan yang ramah anak sehingga peserta merasa nyaman selama mengikuti pemeriksaan.
Penyakit Tidak Menular seperti hipertensi, diabetes melitus, obesitas, maupun gangguan metabolik tidak lagi hanya menjadi masalah kelompok usia dewasa. Berbagai kajian menunjukkan bahwa faktor risiko PTM dapat mulai terbentuk sejak masa anak-anak melalui pola makan yang kurang sehat, kurangnya aktivitas fisik, hingga paparan asap rokok di lingkungan keluarga. Karena itu, skrining kesehatan di sekolah merupakan investasi jangka panjang untuk mencegah munculnya penyakit kronis pada masa dewasa.
Di sisi lain, kusta masih menjadi salah satu penyakit tropis yang memerlukan kewaspadaan. Meskipun Indonesia telah mencapai status eliminasi secara nasional, kasus baru, termasuk pada anak, masih ditemukan di beberapa wilayah. Kehadiran kasus pada anak menjadi indikator bahwa penularan di masyarakat masih dapat terjadi. Oleh sebab itu, deteksi dini di lingkungan sekolah menjadi langkah strategis agar kasus dapat ditemukan lebih cepat, diobati secara tuntas, serta mencegah kecacatan maupun stigma sosial terhadap penderita.
Pelaksanaan kegiatan ini juga merupakan bentuk nyata komitmen Pemerintah Kota Bima dalam memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan, khususnya pelayanan promotif dan preventif kepada masyarakat. Permenkes Nomor 6 Tahun 2024 menegaskan bahwa pemerintah daerah berkewajiban menyelenggarakan pelayanan dasar kesehatan yang bermutu, termasuk penguatan deteksi dini melalui skrining kesehatan pada kelompok sasaran.
Kolaborasi antara Bidang P3PL, Bidang Binkesmas, dan Puskesmas Penanae sebagai bagian dari implementasi Program Cek Kesehatan Gratis atau CKG menjadi contoh bahwa keberhasilan pembangunan kesehatan tidak dapat dicapai oleh satu program saja. Integrasi kegiatan memungkinkan sumber daya dimanfaatkan secara lebih efektif, memperluas jangkauan pelayanan, sekaligus meningkatkan efisiensi pelaksanaan program kesehatan di tingkat masyarakat.
Melalui kegiatan ini diharapkan setiap anak memperoleh kesempatan yang sama untuk mengetahui kondisi kesehatannya sejak dini. Bila ditemukan faktor risiko maupun dugaan penyakit, tindak lanjut dapat segera dilakukan oleh Puskesmas sehingga penanganan menjadi lebih cepat, tepat, dan komprehensif.
Di balik setiap pemeriksaan sederhana terdapat makna yang besar. Setiap tekanan darah yang diukur, setiap pemeriksaan fisik yang dilakukan, serta setiap edukasi yang diberikan merupakan investasi bagi lahirnya generasi Kota Bima yang lebih sehat, lebih produktif, dan lebih siap menyongsong masa depan.
Sebagaimana semangat Transformasi Kesehatan Indonesia, pembangunan kesehatan tidak hanya berfokus pada mengobati penyakit, tetapi juga mencegah masyarakat jatuh sakit. Dari ruang kelas sederhana di SD Negeri 62 Kelurahan Rontu, langkah kecil itu telah dimulai—menjemput kesehatan anak-anak Indonesia, satu sekolah pada satu waktu.